NAMA MUSBAR SOLEMAN SIREGAR
Batak Angkola
(Surat Batak: ᯄᯞᯄ᯦᯲ ᯅᯖᯄ᯦᯲ ᯀᯰᯄ᯦ᯬᯞtransliterasi: Halak Batak Angkola) merupakan salah satu kelompok etnis Batak. Tanah ulayat Batak Angkola berada di wilayah selatan Tapanuli, yakni meliputi Kabupaten Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidempuan, Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Padang Lawas, dan sebagian Kabupaten Mandailing Natal. Suku Batak Angkola memiliki hubungan kekerabatan (tarombo) dengan marga-marga Batak Toba dan Batak Mandailing. Di samping itu, ketiganya juga saling berbagi beberapa
persamaan bahasa dan budaya yang dihidupi sebagian besar masyarakatnya.
Wilayah Sebaran
Selama ini banyak orang menganggap
penduduk asli Tapanuli Selatan semuanya etnis Mandailing dan
sebagian Batak Toba. Anggapan ini sangat keliru. Tapanuli Selatan
sebelum pemekaran wilayah menjadi Tapanuli Selatan (Ibu Kota Padang Sidempuan, kemudian Sipirok). Mandailing Natal (beribu kota Panyabungan). Sejak dahulu kala dihuni oleh penduduk asli yang
terdiri dari etnis Angkola dan Mandailing.
Etnis
Batak Angkola mayoritas mendiami Tapanuli Selatan sekarang, ditandai dengan
dominasi marga Harahap dan Siregar. Mandailing memang mayoritas mendiami daerah Mandailing Natal yang sekarang, dengan dominasi marga Nasution dan Lubis.
Dalam
sejarah Tapanuli Selatan dijelaskan, Angkola mengandung dua arti penting.
Angkola bisa diartikan sebagai suatu wilayah, teritori atau daerah. Makna lain,
Angkola adalah sebuah etnik berdiri
sendiri dan asli di Sumatra
Utara ini.
Angkola adalah Etnik
Jauh
sebelum penjajah Belanda menjejakkan kaki di bumi persada ini, telah ada
penduduk yang mendiami wilayah Angkola. Diperkirakan 9000 tahun sebelum masehi.
Itulah yang dinamakan Etnik Angkola (asli Angkola, bukan pecahan atau yang
memisahkan diri dari Etnik lain).
Terbukti
dengan adanya kerajaan-kerajaan seperti Sabungan (di kaki Lubuk Raya),
Batunadua, Sipirok/Parau Sorat, Siala Gundi, Muara Tais, Batang Toru
sekitarnya, Batarawisnu, Mandalasena, dan lain-lain.
Etnik
Angkola memiliki ciri tersendiri, seperti :
- Falsafah
dasar “Dalihan Na Tolu”, sebagai tatanan/pandangan hidup sampai saat ini tetap
dipedomani,
- Adat
Istiadat Budaya,
- Pakaian
Adat Tersendiri
-Kain Ulos
(Abit Godang&sadun) dan kain tenun
- Bahasa
dengan Aksara. Bahasa yang kaya dengan tingkatan penggunaannya; bahasa
Biasa (digunakan dalam komunikasi sehari-hari), Andung (bahasa halus), Bura
(bahasa Kasar) atau yang lainnya dapat diperdalam melalui Impola ni Hata.
Aksara Angkola dengan tulisan tersendiri. Jika dibaca menurut ejaan Latin
adalah A, HA, MA, NA, RA, TA, I, JA, PA, U, WA, SA, DA,BA, LA, NGA, KA, CA,
NYA, GA, YA (Konsonan Ina ni Surat). Dilengkapi dengan symbol yang
menandakan perubahan bunyi Vokal E, I, O dan U serta symbol pembatas
disebut Pangolat menandakan huruf mati, misalnya NGA menjadi NG, dan
lain-lainnya. Bentuk huruf/abjadnya jelas ada tersendiri lain dari aksara etnik
lainnya.
-
Mempunyai Kesenian dan Alat-alatnya.
- Ornamen
khas.
- Tutur
(adab panggilan), dalam pergaulan sehari-hari mempunyai tidak kurang dari 135
jenis Tutur/Sapaan.
- Buku
Adat Budaya Angkola (lengkap) ditulis oleh Stn. Tinggibarani Siregar dan
lain-lain ciri khas kebudayaannya, telah dianut secara turun temurun.
Bahasa dan
Aksara Angkola dahulu dipergunakan menjadi salah satu mata pelajaran disekolah
SD dan SMP/sederajat diseluruh Tapanuli Selatan, baik pelajaran Tata Bahasa
(Impola ni Hata), Bahan Bacaan (Turi-turian) dan lain-lain dipergunakan adalah
versi Angkola, dengan berbagai macam bahan/pedoman hidup bermasyarakat, sebagai
dasar dalam berbudi pekerti.
Aksara Angkola
Contoh Pantun Dalam Aksara Angkola:
1.Pantun
Artinya:
ayam dari pea langge
kotek kotek mau bertelur
kalau putus hubungan
pertemanan
lebih ngeri kehilangan
ibu

.jpeg)

.jpeg)
Sangat membantu terimakasih
BalasHapus👍👍
BalasHapus